About

Yhellow! people call me Litong. They say i am weird. They say I am an energizer bunny. They say i fall a lot. they say i am silly. well, go figure. I think people kinda true, though.
I am an eternal student. A pack rat. a F.R.I.E.N.D.S (series) lover. an impulsive-and-short-ranged-focus adventurer. A fruit addict. A bathroom singer. An A+. A cartoon freak. Oranje!
last.fm/user/arrlitong

Looking for something specific?

 

Mendukung dan Menonton EURO: Euphoria atau Pencitraan?

Akhir-akhir ini setelah sekitar dua minggu ajang pertandingan sepak bola internasional EURO 2012. Yang muncul dari euphoria ini seperti biasa adalah semua orang mendukung salah satu tim, taruhan, nonton bareng di berbagai tempat, hingga muncul trend dalam dunia BlackBerry Messenger (BBM) yaitu dengan menempatkan bendera suatu negara yang berada di tim euro di display name ato personal message nya. Banyak orang-orang yang menjadi mendukung salah satu tim negara yang padahal sebenarnya sehari-hari tidak terlalu menghiraukan liga-liga, tidak suka, bahkan jarang nonton pertandingan bola. Istilahnya ikutan rame, biar asik.

Fenomena bola ini memang lucu. Untuk lelaki, sepak bola dan pertandingannya adalah salah satu bentuk pengakuan identitas maskulinitasnya. Dengan menyukai dan menonton bola maka dia bisa ikut serta dalam sebuah pembicaraan antar lelaki mengenai pertandingan-pertandingan atau pemain tertentu. Dengan mendukung suatu tim tertentu, tim tersebut yang ia dukung bahkan menjadi identitas baginya. Misalnya si Joni yang fans berat Manchester United (MU) ato si Asep yang fans berat Persib. Dengan ini biasanya orang-orang pendukung dan penyuka diterima dalam komunitas pertemanan lelaki, dan akan diajak-ajak dalam kegiatan sosial yang berhubungan dengan bola seperti main futsal bersama atau nonton bareng. Untuk lelaki yang tidak suka bola, hal ini adalah hal yang cukup mengesalkan. Teman saya, lelaki namun tidak suka bola ketika SMA seringkali dikucilkan dalam pembicaraan lelaki-lekai di kelas. HIngga sekarang, banyak saya temukan judgmental lelaki-lelaki penyuka bola yang stereotype kepada yang tidak suka.

Saya menyadari ini karena pada saat saya dan kakak perempuan saya sedang asyik menonton salah satu pertandingan Euro, adik saya yang laki-laki malah acuh tak acuh. Setelah kami—saya dan kakak perempuan saya—konfrontir adik kami mengenai bola, dia sendiri mengakui memang tidak terlalu menikmati sebenarnya. Dia menyatakan dirinya adalah penyuka bola dan fans berat MU. Namun, dia sepertinya tidak begitu menikmati menonton pertandingan bola. Dia hanya melihat sekilas kemudian melihat skornya dan hanya berkomentar dari situ sama sekali tidak tertarik menonton lebih jauh. Setelah dilihat-lihat sepertinya memang menjadi pendukung salah satu tim bola adalah seperti sesuatu yang wajib bagi laki-laki, terlebih lagi seusianya yang masih SMP. Ia membutuhkan identitas pendukung bola untuk bisa berteman sosial, terlebih lagi untuk lelaki remaja yang masih mencari identitas ditambah peer pressure yang tinggi. Mendukung sebuah tim sepak bola, bukan main-main bagi laki-laki remaja, it’s a way to survive.

Beda halnya dengan perempuan. Perempuan menonton bola untuk pencitraan diri sebagai cewek asik haha. Memang tidak semua perempuan seperti ini, namun tidak jarang saya menemukan perempuan yang menyatakan diri mendukung suatu tim bola dan ternyata dia tidak mengerti, tidak tahu dan bahkan tidak menikmati. Pencitraan cewek asik pun tidak terlepas dari pandangan lelaki. Perempuan yang menonton, mendukung, dan menyukai pertandingan sepak bola adalah cewek asik. Kata siapa? kata lelaki. Otomatis lelaki akan senang dengan cewek yang asik. Selain alat pencitraan, sepak bola juga adalah media pendekatan antara lelaki dan perempuan sebagai salah satu topik pembicaraan atau ajang untuk diajak jika ada nonton bareng. Sepak bola sebagai media pendekatan pun berlaku untuk kedua belah pihak.

Pertanyaannya, ketika kita menyukai suatu tim bola, siapakah ato elemen apakah yang sebenarnya disukai dari tim itu?

Saya, dulu—ketika perempuan yang menyukai sepak bola jauh lebih sedikit dari sekarang dan ketika perempuan yang suka bola belum disebut cewek asik—memang sempat menyukai Liverpool di jaman Owen dan Heskey masih bermain sebagai duo. Saya dulu juga sempat mendukung MU karena ada David Beckham. Saya mendukung tim tertentu karena ada pemain yang saya sukai di situ. Namun, ketika kemudian Beckham keluar dari MU, saya setengah-setengah mendukung MU dan tim baru Beckham. Owen pun kemudian pindah dari Liverpool dan lagi-lagi saya setengah-setengah kemudian. Kemudian ada pemain yang saya tidak suka masuk MU. Transfer pemain adalah sesuatu yang mutlak dalam tim sepak bola dan itu pula yang membuat saya berhenti mendukung klub manapun. Karena terlalu membingungkan. Tidak ada identitas yang kekal dalam identitas sebuah tim bola internasional dan atau komersil seperti liga-liga Inggris, Spanyol, Itali,etc. Seorang pemain pasti pindah klub, kecuali mungkin Ryan Giggs; seorang pelatih pun pasti diganti, kecuali Alex Ferguson; dan suatu atau seorang pemilik klub pun juga berganti. Jadi sebenarnya apakah yang kita dukung ini ketika elemen-elemen itu berganti? kecuali kita memang berasal dari kota tersebut, maka kesukaan kita itu biasa, seperti orang-orang Bandung mendukung Persibnya.

Maka dari itu saya hanya menonton pertandingan yang tim-timnya berdasarkan negara, karena setidaknya identitas sebagai warga suatu negara beserta nasionalisme adalah identitas yang hampir tidak pernah berganti dalam pemain sepak bola. Walaupun Owen dan Beckham dulu Liverpool dan MU kemudian sekarang Madrid dan LA Galaxy, mereka akan selalu menjadi pemain Inggris. Maka dari itu saya selalu mendukung Inggris semenjak Piala Dunia 2006, walaupun mereka sekarang sudah tidak bermain tapi bukan juga mereka berhenti menjadi warga negara Inggris, mereka selalu menjadi warga Inggris.

Saya berhenti mendukung, menonton dan mengikuti pertandingan sepak bola liga krucil (baca: liga non-negara sebagai tim) karena identitas tim yang labil, periode satu season liga yang terlalu panjang dan semakin banyak perempuan yang menjadi pendukung serta penonton sepak bola sehingga somehow jadi malas haha. Memang saya menikmati pertandingan bola pun karena pemainnya yang ganteng, tapi itu bukan faktor utama. karena kalau cuma mau melihat lelaki ganteng sih banyak film hollywood dan acara Korea di laptop saya penuh lelaki yang jauh lebih ganteng untuk digandrungi, tidak perlu cape-cape begadang nonton pertandingannya di TV. Faktor pemain-pemain yang ganteng adalah faktor pendukung, bukan faktor utama.

Saya menikmati pertandingan sepak bola. Saya menonton dan mengikuti dari pertandingan Piala Dunia dan Euro semenjak Piala Dunia 2006 di Jerman hingga sekarang Euro 2012. Dari pertama Polandia vs Yunani. Liga-liga ini hanya memakan paling lama satu bulan, jadi hanya sebentar mengganggu hidupnya, dan juga hanya setiap dua tahun sekali. Piala Dunia 2006, Euro 2008, Piala Dunia 2010, Euro 2012.

Yang lucu adalah sahabat saya Irsyad yang minta diajari nonton bola seperti ini. Saya cuma bisa tertawa, menikmati hal-hal ini tidak bisa diajari. Saya cuma menikmati pertandingan-pertandingan ini, nama-nama pemain bolanya, analisisnya, teknisnya saja banyak yang saya tidak tahu. Coba saja nonton satu pertandingan sendirian dan coba rasakan menikmati atau tidak. Kenapa sendirian karena terlepas dari pencitraan-pencitraan sebagai penonton bola. Ketika memang tidak menikmati menonton bola, ya sudah tidak usah dipaksakan. There’s nothing wrong with not liking and enjoying football matches. Mendukung dan menonton untuk pencitraan pun tidak salah, karena dari pencitraan lah kita memiliki identitas. Choose well :)

2012.06.19  2:18am  

Post Notes

  1. alicethegreentea said: Setuju, aku dari awal juga lebih suka nonton bola yg timnya negara macam euro/piala dunia.lebih spesifik lagi, aku lebih suka tim eropa jd aku selalu nonton euro tp ga pernah nonton liga d asia,misalnya.btw.aku dukung jerman. hahaha #ganyambung
  2. arrlitong posted this

Links

      
RSS
a Tumblr theme by Robert Boylan