Akhir-akhir ini saya melihat banyak teman-teman saya kesana kemari, ke negara ini dan itu melakukan ini dan itu. Pengen rasanya. Ada teman saya yang sudah jalan-jalan ke Eropa terus langsung sambung Korea. Ada yang ke Skotlandia, ada yang Turki. Panas ya hati ini rasanya, ingin gitu rasanya.
Saya kadang merasa dengan kepergian saya satu semester dan hidup sendiri di negara lain kemarin rasanya itu sudah cukup. sudah. Tapi kemudian saya membalikkan lagi argumen saya, “tong emangnya kamu udah puas? segitu doang? cepet puas ya. padahal orang kesana kemari melakukan sesuatu untuk dunia dan perubahan, kamu ngapain? kebanjiran ya di luar negeri? bukannya kamu juga pengen melakukan perubahan untuk dunia? and you’re just sitting here?” kemudian saya mencari-cari program lagi kesana kemari. menyemangati diri sendiri,
saya ingat sekali ketika dulu sebelum saya berangkat exchange saya akan kejar kemanapun program apapun yang bisa saya ikuti dengan semangat menggebu dan tanpa lelah, seminim apapun harapannya. itu berlangsung lebih dari satu tahun rasanya saya begitu. entah sudah berapa kali dosen wali saya saya mintai surat rekomendasi. rasanya program one semester exchange scholarship saya ini adalah sebuah finish line dari marathon.
program ke luar negeri sebagus-bagusnya dapat scholarship mau tidak mau tetap harus ngeluarin uang sendiri. walaupun kata teman saya “uang mah bisa dicari nanti” tetapi mau tidak mau butuh uang sendiri. Itu yang membuat saya enggan untuk mengikuti program lain lagi, karena saya tidak mau mengeluarkan uang lagi. bukan tidak mau juga, tidak ada uang yang bisa saya keluarkan. saya tidak mau menggunakan uang orangtua saya. ketika saya exchange alhamdulillah saya dapat sponsor, namun menyebarkan proposal untuk sponsor adalah hal yang sangat melelahkan menurut saya dan amat tidak pasti.
belum lagi saya menyadari bahwa bahkan saya tidak mendapat bantuan dana dari dikti padahal saya wakil indonesia untuk asean, dan ketika saya lihat list bantuan dari dikti tersebut jatuh ke mahasiswa-mahasiswa lain yang pergi untuk conference sesuatu yang saya tidak tahu. ternyata banyak dan semakin banyak konferensi-konferensi di luar negeri seperti itu yang bisa diikuti, makinlah saya merasa semakin minim kans untuk mendapat bantuan dengan mengajukan proposal.
saya berpikir, “tong, where’s your effort and passion? biasanya juga hal-hal seperti ini tidak menyurutkan semangat kamu. ingat apa janji kamu waktu setelah travelling sendirian ke chiang mai dan baca artiket itu? travelling lah selagi masih muda. yes. dan kamu berjanji mau kan? ini kesempatan kamu! ayo dong! jangan malu-maluin diri sendiri dengan semangat melempem!”
malam ini, saya sedang semangat mencari-cari. namun terus saya berpapasan sama beberapa program di web dan di email. ada initiative of change, global changemakers, dll. ketika saya melihat mereka-mereka ini melakukan perubahan untuk dunia di ranah global. global men, wow. like i want to do!
“ah mau ah!” itu pikiran saya. namun saya terhenti saya persyaratan yang katanya kita harus anggota NGO ato punya proyek untuk komunitas lokal atau lebih tinggi. dan saya berpikir.. “what have you done, tong? nothing. masa sih ga ada? untuk lokal? iya, ga ada.” here i am wanting to change the world yet ive done nothing for the nearest people, let alone in this world. saya merasa sangat bodoh, malu dan ingin rasanya menertawakan diri sendiri.
ada kok proyek-proyek yang bisa dilakukan disini, dan banyak membantu. namun malah belum kelar dan terbengkalai, saya malah sibuk geje celingak celinguk kiri-kanan.
dan sejujurnya saya ingin program ke luar itu memang ingin program exchange yang lama, karena saya ingin pengalamannya. saya ingin mencoba hidup dengan budaya lain dalam jangka waktu cukup lama. kalau konferensi pendek gitu kurang berasa dan lebih ke jalan-jalan. buat saya jalan-jalan itu tidak boleh maksa. kalau dengan status saya pelajar ini dan saya ingin jalan-jalan ke luar negeri itu namanya maksa. travelling simply pleasure.
konferensi dan sejenisnya apapun itu sebagai alibi untuk jalan-jalan buat saya, ga laku. “busuk, tong. busuk.” ga baik. hati nurani saya ga mengizinkan saya, ga tenang rasanya. ga tenang rasanya maksain kesenangan saya pribadi tapi menyusahkan orangtua saya. saya berjanji untuk travelling di masa muda saya, saya akan menabung gaji saya nanti ketika sudah kerja dan berusaha keras untuk menyisihkan waktu untuk travelling. walaupun itu nanti sendirian travellingnya, ga masalah, ive done that, and im fine with that.
saya akan melakukan perubahan di lokal saja dulu dengan orang-orang dekat disini. seperti prinsip dari keluarga saya, “bantulah dulu saudara dan keluarga yang dekat, baru yang jauh.” kalau yang dekat masih ada yang butuh bantuan, bantu dulu yang dekat lah, jangan bantu yang jauh tapi yang dekat engga. saya harus bisa melaksanakan proyek mekarmukti bermimpi saya! dan jika ingin mengembangkan skill saya, bisa juga mengembangkan diri disini, ya, Tong. fokusin apa goalnya dan hajar head-on! gausa banyak-banyak, ditambah-tambahin, tapi terus jadinya ga fokus gitu, tong.
ini sebenarnya bukan apa-apa. tidak ada maksud pamer atau apapun. cuman kadang-kadang mengeluarkan dialog, isi pikiran dari kepala itu enak. dalam proses menuliskan ini membantu saya merangkai dan mengurai benang kusut di kepala. ini sebenarnya cuma dialog saya sama diri sendiri :E